Rabu, 22 April 2015

Syukur

Definisi Syukur
Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran, menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata “syukur” mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.”
Kata syukur ini –dijelaskan Ar-Raghib– menurut sebagian ulama berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup –(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.
Makna yang dikemukakan pakar di atas dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur dengan kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.
Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang diabadikan Al-Quran:
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
Ini adalah sebagian anugerah Rabb-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur
(QS An-Naml [27]: 40).
Adapun secara istilah, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan: “Syukur itu ialah taat kepada Allah Taala dengan segala anggota, zahir dan batin, baik secara diam-diam atau terang-terangan”.
Imam Abu Bakar al-Warraq mengatakan, “Syukur itu ialah mengagungkan Allah Taala yang dengan kemurahan-Nya yang mengkaruniakan nikmat kepada hamba-Nya yang tidak terhingga banyaknya dan tidak ternilai itu. Dengan itu tidaklah timbul rasa benci atau kufur”.
Para ulama lain menjelaskan: “Syukur itu ialah mengerjakan taat, zahir dan batin, kepada Allah Taala dan seterusnya menjauhi segala maksiat, zahir dan batin, dengan berusaha menjaga hati, lidah, mata, telinga dan segala anggota zahir dan batin yang lainnya supaya terdorong kepada melakukan kemaksiatan”.
Imam al-Ghazali mengatakan:
“Bersyukur itu ialah menjunjung tinggi nikmat, sakaligus mengagungkan Allah Ta’ala. Hal ini dapat menghindarkan rasa benci atau sikap tidak mengenang budi kepada Allah. Dengan yang demikian, kita sentiasa mengingati kebaikan Allah (mengenang budi). Seterusnya, mengingati betapa wajar dan beruntungnya orang yang bersyukur dengan segala tindakan kesyukurannya dan betapa buruk dan ruginya orang yang kufur (tidak mensyukuri nikmat) dengan segala tindakan kekufurannya”.

Perintah untuk bersyukur kepada Allah
Allah memerintahkan untuk bersyukur pada beberapa ayat Al-Qur’an.
Allah berfirman:
وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“… dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”
(An-NahI: 114)
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(Al-Baqarah: 152)
Allah berfirman:
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“… maka mintalah rezki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.“
(Al-Ankabut: 17)

Bagaimana cara kita bersyukur?
Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
(Ali Imraan: 123)
Berkata Imam Ibnu Jarir ath Thabariy dalam kitab tafsir at-Thabary tentang tafsir ayat ini:
“Maka bertaqwalah kepadaKu, yang dengannya engkau mensyukuri nikmat-Ku”
Berkata Imam Ibnu Katsiir dalam kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir :
“Yaitu bertaqwa kepadaNya dengan melakukan taat kepadaNya”
Sedangkan menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, syukur itu sendiri terdiri dari tiga macam:
وهذا العمل يتعلق بالقلب وباللسان وبالجوارح اما بالقلب فقصد الخير واضماره لكافة الخلق واما باللسان فإظهار الشكر لله تعالى بالتحميدات الدالة عليه واما بالجوارح فاستعمال نعم الله تعالى في طاعته والتوقى من الاستعانة بها على معصيته حتى إن شكر العينين-  إحياء علوم الدين لمحمّد الغزالى )بيان حدّ الشكر وحقيقته : (4/84
1. Bersyukur dengan hati
Yakni dengan meyakini bahwa seluruh nikmat bersumber dari Allah ta’ala. Dalam sebuah ayat Allah subhânah mengingatkan,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ
Artinya: “Segala nikmat yang ada pada diri kalian (datangnya) dari Allah”
(QS. An-Nahl: 53)
Kelihatannya mempraktekkan syukur jenis ini mudah. Namun realita berkata bahwa tidak sedikit di antara masyarakat yang praktek kesehariannya membuktikan bahwa mereka masih belum meyakini betul bahwa nikmat yang mereka rasakan bersumber 100 % dari Allah ta’ala.
Contoh nyatanya: di berbagai daerah, setelah panen padi, di pojok-pojok sawah diletakkan berbagai uba rampe. Beras merah, ayam, kelapa muda dan lain-lain. Untuk siapa itu semua?? Persembahan untuk Allah kah? Atau sesaji untuk ‘pemberi pangan’; Dewi Sri?
Yang lebih miris dari itu, keyakinan akan keberadaan Dewi Sri diajarkan pula kepada anak-anak kita di sekolahan.
Di sebuah buku pelajaran sekolah tertulis “Dongeng Datangnya Dewi Sri”. Di dalamnya ada kalimat: “Semua merasa bahwa padi adalah pemberian Dewi Sri untuk bahan pangan untuk seluruh manusia. Di Pulau Jawa orang menyebutnya Dewi Sri. Di Sumatra ada yang menamakannya Putri Dewi Sri, Putri Mayang Padi Mengurai, atau Putri Sirumpun Emas Lestari.”
Innalillah wa inna ilaihi raji’un… Dongeng khayal yang merusak aqidah ternyata diajarkan kepada anak-anak kita!
2. Bersyukur dengan lisan
Yakni dengan memperbanyak mengucapkan hamdalah, sebagaimana perintah Allah ta’ala,
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ
Artinya: “Katakanlah: alhamdulillah (segala puji bagi Allah)”.
(QS. Al-Isra: 111 dan an-Naml: 93)
Termasuk bentuk syukur dengan lisan; menceritakan kenikmatan yang kita rasakan kepada orang lain. Allah ta’ala memerintahkan,
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Artinya: “Adapun mengenai nikmat Rabbmu, maka ceritakanlah”
(QS. Adh-Dhuha: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
فَمَنْ ذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ
Barangsiapa yang menyebut-nyebut kebaikan, maka ia telah bersyukur
(HR. Ahmad; dikatakan derajatnya oleh syikh al-albaaniy dalam shahiih at-targhiib: “HASAN LI GHAYRIHI”)
3. Syukur dengan anggota tubuh,
yakni mempergunakan nikmat Allah untuk ketaatan pada-Nya bukan untuk berbuat maksiat. Syukur jenis ketiga ini amat berat, sehingga hanya sedikit yang mengamalkannya.
Allah ta’ala befirman,
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Artinya: “Wahai keluarga Dawud beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang bersyukur”.
(QS. Saba’: 13)
Mata kita dipergunakan untuk membaca al-Qur’an, membaca hadits atau menelaah ilmu yang bermanfa’at; bukan untuk melihat hal-hal yang diharamkan Allah. Telinga kita dipergunakan untuk mendengarkan pengajian atau hal yang baik-baik lainnya; bukan untuk mendengarkan musik dan nyanyian maupun mendengarkan ghibah. Kaki kita pergunakan untuk beribadah kepadaNya ataupun untuk mencari nafkah; bukan untuk mendatangi tempat-tempat maksiat. Harta kita dipergunakan dijalan Allah; bukan untuk digunakan dijalan yang haram, atau yang sia-sia.
Dengan melakukan ini maka nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita akan terus bertambah dan BERBARAKAH… jika tidak, maka nikmat tersebut akan dicabut di dunia; kalaupun tidak dicabut, maka yang dicabut adalah keberkahannya; atau yang terparah, balasannya ditunda diakhirat, dimana akan disiksa karena tidak mensyukuri nikmatNya, na’uudzubillaah.
Dalam al Qur-aan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”.
(QS. Ibrahim: 7)

Keutamaan Syukur
Allah menggantungkan tambahan nikmat dengan syukur. Dan tambahan nikmat dari-Nya itu tiada batasnya, sebagaimana syukur kepada-Nya.
Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga) ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(Ibrahim: 7)
Dengan bersyukur akan selalu ada tambahan nikmat. Ada peribahasa mengatakan, ‘Jika kamu tidak melihat keadaanmu bertambah, maka bersyukurlah.’
Iman dan Syukur akan menghalangi seorang hamba dari adzabNya
Allah membarengkan syukur dengan iman dan memberitahukan bahwa Dia tidak punya keinginan sama sekali untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.“ (An-Nisaa: 147)
Berkata Syaikh Abdurrazzaaq al badr hafizhahullah: “Artinya, kalau kalian mau bersyukur dan beriman yang menjadi tujuan kalian diciptakan, maka buat apa Allah menyiksa kalian?”

Kiat agar kita menjadi hamba yang pandai bersyukur
1. Meminta tolong kepada Allah ta’ala agar dibantu bersyukur.
Di antara wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada Mu’adz,
أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ
“Wahai Mu’adz, aku wasiatkan padamu agar setiap akhir shalat tidak meninggalkan untuk membaca doa
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku agar senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.
(HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban dan al-Albani)
2. Senantiasa berusaha membandingkan kenikmatan duniawi yang kita rasakan dengan kenikmatan orang yang di bawah kita.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian; sebab hal itu akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah”.
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

0 komentar:

Posting Komentar