Definisi Syukur
Ar-Raghib
Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran, menulis
dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata “syukur” mengandung arti
“gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.”
Kata syukur
ini –dijelaskan Ar-Raghib– menurut sebagian ulama berasal dari kata “syakara”
yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur)
yang berarti menutup –(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan
menutup-nutupinya.
Makna yang
dikemukakan pakar di atas dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang
memperhadapkan kata syukur dengan kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim
(14): 7:
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ
عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Jika kamu
bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka
sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.
Demikian
juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang diabadikan Al-Quran:
هَٰذَا
مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
Ini adalah
sebagian anugerah Rabb-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur
(QS An-Naml
[27]: 40).
Adapun
secara istilah, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan: “Syukur itu ialah
taat kepada Allah Taala dengan segala anggota, zahir dan batin, baik secara
diam-diam atau terang-terangan”.
Imam Abu
Bakar al-Warraq mengatakan, “Syukur itu ialah mengagungkan Allah Taala yang
dengan kemurahan-Nya yang mengkaruniakan nikmat kepada hamba-Nya yang tidak
terhingga banyaknya dan tidak ternilai itu. Dengan itu tidaklah timbul rasa
benci atau kufur”.
Para ulama
lain menjelaskan: “Syukur itu ialah mengerjakan taat, zahir dan batin, kepada
Allah Taala dan seterusnya menjauhi segala maksiat, zahir dan batin, dengan
berusaha menjaga hati, lidah, mata, telinga dan segala anggota zahir dan batin
yang lainnya supaya terdorong kepada melakukan kemaksiatan”.
Imam
al-Ghazali mengatakan:
“Bersyukur
itu ialah menjunjung tinggi nikmat, sakaligus mengagungkan Allah Ta’ala. Hal
ini dapat menghindarkan rasa benci atau sikap tidak mengenang budi kepada
Allah. Dengan yang demikian, kita sentiasa mengingati kebaikan Allah (mengenang
budi). Seterusnya, mengingati betapa wajar dan beruntungnya orang yang
bersyukur dengan segala tindakan kesyukurannya dan betapa buruk dan ruginya
orang yang kufur (tidak mensyukuri nikmat) dengan segala tindakan
kekufurannya”.
Perintah
untuk bersyukur kepada Allah
Allah
memerintahkan untuk bersyukur pada beberapa ayat Al-Qur’an.
Allah
berfirman:
وَاشْكُرُوا
نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“… dan
syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”
(An-NahI:
114)
Allah
berfirman:
فَاذْكُرُونِي
أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(Al-Baqarah:
152)
Allah
berfirman:
فَابْتَغُوا
عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“… maka
mintalah rezki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya.
Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.“
(Al-Ankabut:
17)
Bagaimana
cara kita bersyukur?
Allah
berfirman:
فَاتَّقُوا
اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Karena itu
bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
(Ali Imraan:
123)
Berkata Imam
Ibnu Jarir ath Thabariy dalam kitab tafsir at-Thabary tentang tafsir ayat ini:
“Maka
bertaqwalah kepadaKu, yang dengannya engkau mensyukuri nikmat-Ku”
Berkata Imam
Ibnu Katsiir dalam kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir :
“Yaitu
bertaqwa kepadaNya dengan melakukan taat kepadaNya”
Sedangkan
menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, syukur itu
sendiri terdiri dari tiga macam:
وهذا
العمل يتعلق بالقلب وباللسان وبالجوارح اما بالقلب فقصد الخير واضماره لكافة الخلق
واما باللسان فإظهار الشكر لله تعالى بالتحميدات الدالة عليه واما بالجوارح
فاستعمال نعم الله تعالى في طاعته والتوقى من الاستعانة بها على معصيته حتى إن شكر
العينين- إحياء
علوم الدين لمحمّد الغزالى )بيان حدّ الشكر
وحقيقته : (4/84
1. Bersyukur dengan hati
Yakni dengan
meyakini bahwa seluruh nikmat bersumber dari Allah ta’ala. Dalam sebuah ayat Allah subhânah mengingatkan,
وَمَا
بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ
Artinya:
“Segala nikmat yang ada pada diri kalian (datangnya) dari Allah”
(QS.
An-Nahl: 53)
Kelihatannya
mempraktekkan syukur jenis ini mudah. Namun realita berkata bahwa tidak sedikit
di antara masyarakat yang praktek kesehariannya membuktikan bahwa mereka masih
belum meyakini betul bahwa nikmat yang mereka rasakan bersumber 100 % dari
Allah ta’ala.
Contoh
nyatanya: di berbagai daerah, setelah panen padi, di pojok-pojok sawah
diletakkan berbagai uba rampe.
Beras merah, ayam, kelapa muda dan lain-lain. Untuk siapa itu semua??
Persembahan untuk Allah kah? Atau sesaji untuk ‘pemberi pangan’; Dewi Sri?
Yang lebih
miris dari itu, keyakinan akan keberadaan Dewi Sri diajarkan pula kepada
anak-anak kita di sekolahan.
Di sebuah
buku pelajaran sekolah tertulis “Dongeng
Datangnya Dewi Sri”. Di dalamnya ada kalimat: “Semua merasa bahwa
padi adalah pemberian Dewi Sri untuk bahan pangan untuk seluruh manusia. Di
Pulau Jawa orang menyebutnya Dewi Sri. Di Sumatra ada yang menamakannya Putri
Dewi Sri, Putri Mayang Padi Mengurai, atau Putri Sirumpun Emas Lestari.”
Innalillah
wa inna ilaihi raji’un… Dongeng khayal yang merusak aqidah ternyata
diajarkan kepada anak-anak kita!
2. Bersyukur
dengan lisan
Yakni dengan
memperbanyak mengucapkan hamdalah, sebagaimana perintah Allah ta’ala,
وَقُلِ
الْحَمْدُ لِلّهِ
Artinya:
“Katakanlah: alhamdulillah (segala puji bagi Allah)”.
(QS.
Al-Isra: 111 dan an-Naml: 93)
Termasuk
bentuk syukur dengan lisan; menceritakan kenikmatan yang kita rasakan kepada
orang lain. Allah ta’ala memerintahkan,
وَأَمَّا
بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Artinya:
“Adapun mengenai nikmat Rabbmu, maka ceritakanlah”
(QS.
Adh-Dhuha: 11)
Rasulullah
shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
فَمَنْ
ذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ
Barangsiapa
yang menyebut-nyebut kebaikan, maka ia telah bersyukur
(HR. Ahmad;
dikatakan derajatnya oleh syikh al-albaaniy dalam shahiih at-targhiib: “HASAN
LI GHAYRIHI”)
3. Syukur
dengan anggota tubuh,
yakni
mempergunakan nikmat Allah untuk ketaatan pada-Nya bukan untuk berbuat maksiat.
Syukur jenis ketiga ini amat berat, sehingga hanya sedikit yang mengamalkannya.
Allah ta’ala
befirman,
اعْمَلُوا
آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Artinya:
“Wahai keluarga Dawud beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan
sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang bersyukur”.
(QS. Saba’:
13)
Mata kita
dipergunakan untuk membaca al-Qur’an, membaca hadits atau menelaah ilmu yang
bermanfa’at; bukan untuk melihat hal-hal yang diharamkan Allah. Telinga kita
dipergunakan untuk mendengarkan pengajian atau hal yang baik-baik lainnya;
bukan untuk mendengarkan musik dan nyanyian maupun mendengarkan ghibah. Kaki
kita pergunakan untuk beribadah kepadaNya ataupun untuk mencari nafkah; bukan
untuk mendatangi tempat-tempat maksiat. Harta kita dipergunakan dijalan Allah;
bukan untuk digunakan dijalan yang haram, atau yang sia-sia.
Dengan
melakukan ini maka nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita akan terus
bertambah dan BERBARAKAH… jika tidak, maka nikmat tersebut akan dicabut di
dunia; kalaupun tidak dicabut, maka yang dicabut adalah keberkahannya; atau
yang terparah, balasannya ditunda diakhirat, dimana akan disiksa karena tidak
mensyukuri nikmatNya, na’uudzubillaah.
Dalam al
Qur-aan:
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ
إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya:
“(Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur,
niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari
(nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”.
(QS.
Ibrahim: 7)
Keutamaan
Syukur
Allah
menggantungkan tambahan nikmat dengan syukur. Dan tambahan nikmat dari-Nya itu
tiada batasnya, sebagaimana syukur kepada-Nya.
Allah
berfirman:
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ
عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan
(ingatlah juga) ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(Ibrahim: 7)
Dengan
bersyukur akan selalu ada tambahan nikmat. Ada peribahasa mengatakan, ‘Jika
kamu tidak melihat keadaanmu bertambah, maka bersyukurlah.’
Iman dan
Syukur akan menghalangi seorang hamba dari adzabNya
Allah
membarengkan syukur dengan iman dan memberitahukan bahwa Dia tidak punya
keinginan sama sekali untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur dan
beriman kepada-Nya. Allah berfirman:
مَا
يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ
شَاكِرًا عَلِيمًا
“Mengapa
Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha
Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.“ (An-Nisaa: 147)
Berkata
Syaikh Abdurrazzaaq al badr hafizhahullah: “Artinya, kalau kalian mau bersyukur
dan beriman yang menjadi tujuan kalian diciptakan, maka buat apa Allah menyiksa
kalian?”
Kiat
agar kita menjadi hamba yang pandai bersyukur
1. Meminta
tolong kepada Allah ta’ala
agar dibantu bersyukur.
Di antara
wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam
kepada Mu’adz,
أُوصِيكَ
يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ
“Wahai
Mu’adz, aku wasiatkan padamu agar setiap akhir shalat tidak meninggalkan untuk
membaca doa
اللَّهُمَّ
أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah,
bantulah aku agar senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik
kepada-Mu”.
(HR. Abu
Dawud dan yang lainnya. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim, Ibn Khuzaimah,
Ibn Hibban dan al-Albani)
2.
Senantiasa berusaha membandingkan kenikmatan duniawi yang kita rasakan dengan
kenikmatan orang yang di bawah kita.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,
انْظُرُوا
إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ
أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه
“Lihatlah
orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian;
sebab hal itu akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah”.
(HR. Muslim,
dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
0 komentar:
Posting Komentar